馃攳
Cara Nabung Saham Bank BRI dengan Gaji UMR - YouTube
Channel: unknown
[1]
Cukup banyak orang yang nanya di kolom komentar tentang 2 hal ini,
[5]
yaitu, 1. Kapan harus beli saham?
[8]
2. Kapan jual saham?
[11]
Sama kayak gini nih, "Kapan masuk atau kapan keluar?"
[16]
Diiringi juga, biasanya dengan pertanyaan,
[18]
"Kalo beli di harga berapa?" terus, "Sebanyak apa?"
[23]
Di video kali ini, gue akan coba jelasin salah satu metode membeli saham
[27]
yang sekiranya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
[31]
Metode tersebut dinamakan 'Dollar Cost Averaging' (DCA)
[36]
Dan gue juga akan jelasin buktinya,
[39]
kenapa DCA ini pada akhirnya mampu menjadi salah satu pilihan
[42]
yang menguntungkan ketika kita mau mulai menabung saham.
[47]
Seperti biasa, gue akan jelasin dengan sebuah cerita.
[52]
Karena gue akan memberikan bukti keberhasilan metode DCA ini,
[56]
latar waktu yang gue gunakan dalam cerita adalah tahun 2014 dan 2004.
[62]
Terus, apakah lo bisa memakai metode DCA ini di waktu sekarang?
[66]
2021?
[68]
Ya seharusnya lo bisa merangkum sendiri di akhir video nanti.
[73]
Kita mulai ya.
[76]
Suatu ketika, lo udah selesai sekolah,
baik itu SMP, SMA, atau kuliah.
[82]
Lo tinggal di Jakarta,
[83]
dan akhirnya udah dapet kerja dengan gaji UMR (Upah Minimum Regional)
[87]
Saat itu adalah tahun 2004.
[90]
Sebagai keterangan, UMR DKI Jakarta tahun 2004 adalah Rp671,600
[96]
Data ini gue ambil dari Badan Pusat Statistik.
[100]
Kemudian, lo berpikir,
[101]
"Gimana ya cara gue menabung sebagian dari uang ini?"
[105]
Akhirnya, lo memutuskan untuk menyisihkan
sekitar 30 persen dari gaji lo saat ini,
[111]
untuk ditabung dalam bentuk saham.
[113]
Dan lo bertekat, akan konsisten menyisihkan uang 30 persen dari gaji tadi
[118]
selama 12 bulan, alias 1 tahun.
[122]
Kenapa cuma 1 tahun? karena lo sendiri tahu,
[124]
menyisihkan 30 persen dari gaji UMR itu adalah hal yang sulit.
[128]
Jadi lo men-challenge diri lo, menantang diri lo,
[131]
untuk nyoba nabung, 1 tahun dulu deh. Gitu.
[136]
Gue coba rekap ya, saat ini tahun 2004,
[139]
Lo punya gaji setingkat UMR yaitu Rp671,000
[143]
pengen nabung sekitar 30 persen yaitu Rp200,000
[146]
dan lo pengen konsisten, beli selama 12 kali dalam 1 tahun.
[150]
Yang berarti, 1 bulan 1 kali beli (sahamnya).
[153]
Yang pertama kan, harus milih perusahaan apa yang mau kita beli.
[158]
Saran gue yang paling simpel dan lo nggak usah analisis terlalu mendalam
[162]
adalah beli perusahaan yang produknya lo kenal,
[166]
atau bahkan lo pakai sehari-hari.
[168]
Contohnya, Bank BRI,
[169]
karena misalnya ternyata lo dan keluarga lo
[172]
adalah nasabah dari Bank BRI pada saat itu.
[175]
Jadi lo berpikir, "Yaudahlah, gue juga pake produknya."
[179]
"Temen-temen kantor juga ada yang jadi nasabahnya."
[182]
Jadi lo pikir Bank BRI akan bertahan lah dalam jangka panjang.
[186]
"Orang yang make produknya aja banyak." Gitu kan?
[190]
Tujuan lo dalam misi kali ini adalah,
[192]
membeli saham Bank BRI dengan budget Rp200,000 per bulan,
[196]
dan dilakukan selama 12 bulan.
[199]
Okay? Lanjut ya.
[202]
Singkat cerita, lo udah berhasil nih,
[204]
sampai kepada bulan Desember tahun 2004.
[208]
dan lo juga udah melakukan pembelian ke-12,
[210]
alias pembelian terakhir lo dalam tantangan
[213]
yang lo bikin sendiri di awal tahun tadi.
[216]
Yang mana, tabel pembeliannya lo rangkum sebagai berikut.
[221]
Oh iya, sebelumnya gua mau kasih tahu dulu,
[224]
data ini gua ambil dari Yahoo Finance.
[226]
Lo bisa cek sendiri, link nya ada di kolom deskripsi.
[230]
Ini cara bacanya dari kiri adalah, sekarang tahun 2004,
[234]
terus ini bulannya Januari sampai bulan Desember.
[237]
dan di sebelahnya ada tanggalnya, tanggal dimana lo beli sahamnya.
[241]
Yang berarti, misalnya paling atas nih,
[244]
Lo beli saham Bank BRI di bulan Januari tanggal 4,
[247]
yang mana pada saat itu harga saham Bank BRI
adalah Rp125 perak per lembarnya.
[254]
Jadi dengan Rp200,000 lo dapet berapa lot nih?
[257]
Ternyata lo dapet 16 lot.
[259]
Dan saat itu harganya pas Rp200,000 jadi nggak ada kembaliannya.
[264]
alias kembaliannya 0 rupiah.
[266]
Ini ngomong-ngomong, belum biaya sekuritas ya
[269]
tapi bisa kita abaikan karena nggak terlalu signifikan biayanya.
[274]
Misalnya lagi nih, di bulan Juni tanggal 6,
[277]
Lo beli saham Bank BRI
[279]
yang saat itu harga saham per lembarnya adalah 155 perak.
[284]
Jadi dengan Rp200,000 lo dapet 12 lot,
[288]
dan lo masih dapet kembalian Rp14 ribu.
[292]
Sisanya, lo tinggal baca sendiri.
[295]
Saat ini kan tadi bulan Desember tahun 2004.
[298]
Di akhir tahun tersebut,
[299]
ketika lo konsisten untuk menabung Rp200,000 per bulan selama 12 bulan,
[305]
akhirnya setelah dihitung-hitung,
[307]
Lo punya totalnya 137 lot saham Bank BRI.
[312]
Dengan total nilai investasi,
[313]
atau menabung saham yang lo lakukan adalah Rp2,3 juta sekian.
[318]
Dan masih ada sisanya,
[320]
totalnya Rp73 ribu dari budget belanja saham lo dalam satu tahun
[324]
yang nggak jadi dibeliin saham.
[327]
Berarti, saat ini lo punya 13,700 lembar saham Bank BRI
[332]
ketika lo investasi sebesar Rp2,3 juta.
[335]
Yang artinya, 1 lembar saham Bank BRI yang lo punya
[340]
harga rata-ratanya adalah Rp169,8 perak.
[344]
Pada saat itu, harga saham Bank BRI di pasar
[347]
adalah Rp245 perak 1 lembarnya.
[351]
Sedangkan, lo punya 13,700 lembar saham Bank BRI
[356]
dengan rata-rata harganya Rp169,8 perak 1 lembarnya.
[362]
Berarti saat itu aja, lo untung 44 persen dari saham yang Lo pegang.
[367]
Ini nama lainnya adalah 'Capital Gain'
[369]
alias selisih dari harga jual dan beli.
[373]
Apakah lo udah bisa menjualnya?
[375]
tentu aja bisa.
[377]
lo selalu bisa memilih untuk jual kapan pun.
[380]
44 persen itu udah sangat jauh dari bunga deposito.
[384]
Apakah lo udah untung saat ini kalau lo jual?
[387]
Ya untung.
[389]
Skenario pertama adalah, lo jual saat itu juga 137 lot saham yang lo punya
[394]
di harga Rp245 perak 1 lembarnya.
[397]
Lo berhasil dapet uang Rp3,3 juta.
[401]
Wow! lo dapet untung Rp1 juta,
[405]
dari Rp2,3 juta yang lo tabung dari awal tahun.
[409]
Apakah itu membuat lo seneng?
[411]
Tentu aja iya, karena lo belom liat skenario kedua.
[417]
Nah, skenario kedua adalah, kan lo merasa takjub nih,
[421]
karena 1 tahun aja uang lo udah berkembang 44 persen dari semula.
[426]
Kemudian lo memiliki mindset,
[428]
untuk menyimpannya dalam waktu yang lama.
[431]
Karena lo yakin dalam jangka panjang, akan bisa lebih dari 44 persen.
[435]
Jadi lo nggak menjualnya pada saat itu.
[438]
Lo memilih untuk melanjutkan kehidupan seperti biasa aja.
[443]
Tahun 2005 dan seterusnya,
[445]
Lo nggak berniat untuk nabung segila tahun 2004 kemarin,
[449]
karena lo mikir, menyisihkan 30 persen gaji UMR lo aja itu udah mati-matian.
[455]
potong budget sana, potong budget sini,
[457]
makan harus dihitung-hitung, beli barang yang dimau harus ditahan-tahan,
[461]
demi bisa nabung 30 persen dari gaji UMR yang lo punya.
[465]
Dan yaudah lo menjalani kehidupan seperti biasa aja setelah itu.
[469]
Gak pernah beli-beli saham lagi.
[473]
Kemudian lo sadar nih,
[474]
setelah pandemi ini, kok saham lagi rame ya dibahas dimana-mana?
[479]
dan lo misalnya baru inget,
[481]
"oh iya, gue kan punya 137 lot saham Bank BRI waktu tahun 2004."
[487]
"sekarang (ada) berapa ya?"
[489]
Apakah untungnya udah lebih dari 44 persen?
[493]
Kemudian lo bukalah portofolio (saham) Lo
[495]
Yang ternyata, isinya bukan lagi untung 44 persen.
[500]
Melainkan, dana lo di awal tadi,
[502]
udah berkembang keuntungannya menjadi 2,780 persen.
[509]
Uang lo yang tadinya Rp2,3 juta sekarang nilainya jadi Rp64,6 juta.
[518]
Gila, kan?
[519]
Nilai sahamnya udah berkembang menjadi 27 kali lipat
[523]
dari dana yang diinvestasikan di awal.
[527]
Terus bukan hanya nilainya yang bertambah,
[529]
tapi lo juga mendapatkan keuntungan dari dividen
[532]
yang rutin dibagikan oleh Bank BRI dari tahun 2005 sampai 2020.
[538]
Yang ternyata dari 137 lot saham Bank BRI lo tadi,
[542]
total nilai dividen yang diterimanya adalah Rp11,5 juta.
[547]
Padahal kalau dipikir-pikir,
[548]
dana yang lo gunain untuk beli sahamnya aja itu cuma Rp2,3 juta
[553]
Dividennya udah jauh melebihi dari apa yang lo bayarkan di tahun 2004.
[558]
Jadi total kekayaan lo di rekening saham saat ini adalah Rp76,2 juta.
[565]
Rp64,6 juta berbentuk saham yang nilainya akan terus berkembang,
[569]
Rp11,5 juta dalam bentuk cash hasil dividen.
[573]
Bukan lagi (cuma) Rp2,3 juta
[577]
Ini adalah skenario kedua,
[579]
dimana lo tetep pegang sahamnya karena lo tau
[583]
perusahaan Bank BRI akan memberikan keuntungan
[586]
kepada pemegang sahamnya dalam jangka panjang.
[589]
Itu kalau lo menggunakan metode Dollar Cost Averaging di tahun 2004.
[596]
Di tahun lainnya gimana?
[597]
Nih, misalnya di tahun 2014.
[603]
Coba kita itung ya, masih sama konsepnya kayak tadi,
[606]
kita nyisihin 30 persen dari UMR jakarta
[609]
yang pada saat itu UMRnya adalah Rp2,441,000
[615]
berarti dana yang bisa kita pakai untuk investasi adalah Rp730,000
[620]
datanya adalah sebagai berikut.
[623]
Di akhir tahun, lo dapet 39 Lot saham Bank BRI
[627]
dengan total nilai investasi adalah Rp7,6 juta
[631]
dan harga rata-rata saham per lembar yang lo pegang adalah Rp1,970
[636]
Kalau lo jual di bulan Desember, itu sahamnya pun kebetulan udah naik,
[640]
karena saat itu harga per lembarnya adalah Rp2,280
[644]
Jadi posisinya, lo udah untung 15,7 persen.
[648]
Skenario yang pertama, lo jual saat itu juga,
[650]
dan lo dapet untung 15,7 persen dari hasil investasi lo.
[655]
Skenario kedua, Kalau lo tetep pegang sahamnya,
[658]
sampai hari ini, di bulan Januari 2021.
[662]
Keuntungan lo bukan lagi 15,7 persen.
[665]
Melainkan jadi 240 persen.
[668]
Tabungan saham lo yang tadinya nilainya Rp7,6 juta di akhir tahun 2014,
[674]
sekarang, di awal tahun 2021 nilainya udah naik menjadi Rp18,4 juta.
[680]
Dan itu belum ditambah dividen yang nilainya adalah Rp2,3 juta
[685]
Jadi, total kekayaan yang lo punya adalah Rp20,8 juta
[689]
bukan lagi hanya Rp7,6 juta
[693]
Kesimpulannya apasih gue ceritain hal tersebut?
[696]
Nabung saham Bank BRI di 2004 dan 2014 dengan Dollar Cost Averaging?
[703]
Seenggaknya, ada 5 poin yang bisa diambil.
[706]
Yang pertama, pertanyaan kita di awal tadi,
[709]
salah satu yang bisa menjadi jawabannya adalah DCA
[712]
alias Dollar Cost Averaging.
[715]
Maksudnya gimana sih, metode ini? gitu kan.
[718]
Jawab aja pertanyaan ini, "kapan beli saham?"
[721]
jawabannya adalah 'kapan aja.'
[723]
"di harga berapa?" 'di harga berapa aja'
[726]
"berapa banyak?" 'sesuaikan aja dengan budget yang kita punya.'
[731]
Yang nanti hasilnya adalah
[733]
Lo dapet harga saham Bank BRI dengan harga rata-rata
[735]
ketika lo melakukan pembelian itu secara berkala.
[739]
Simpel banget kan?
[741]
Apakah cara ini mampu menghasilkan keuntungan?
[744]
tentu aja bisa.
[746]
Contohnya tadi, Bank BRI.
[748]
Namun, syaratnya adalah, yang paling utama,
[751]
pilihlah perusahaan yang baik.
[753]
Kalau lo belum bisa sedikit analisis, saran gua, selalu,
[757]
pilih saham perusahaan yang lo kenal produknya,
[759]
atau bahkan lo pakai produknya.
[761]
Apakah ada metode lain untuk membeli saham?
[763]
Yaa ada.
[765]
Tapi di video kali ini lo belajar tentang DCA.
[769]
Yang kedua, waktu adalah teman.
[772]
udah memilih perusahaan yang baik,
[774]
apakah itu aja cukup untuk bisa menghasilkan keuntungan di saham?
[778]
tentu aja belum.
[779]
Mindset yang harus kita miliki sebagai pemegang saham adalah
[783]
mengganggap waktu sebagai teman.
[785]
Perusahaan sebaik apapun,
[786]
nggak mungkin bisa meningkatkan nilai dari perusahaannya
[789]
tanpa waktu yang cukup.
[792]
Contohnya gini, IHSG, dari 2004 sampai 2021 sekarang,
[797]
bisa naik 767 persen.
[800]
Saham perusahaan yang baik, contohnya salah satunya Bank BRI,
[803]
bisa naik 2780 persen dalam jangka waktu yang sama.
[808]
Tentu aja kenaikan ini nggak bisa terjadi dalam sehari dua hari,
atau sebulan dua bulan.
[813]
Butuh perjalanan waktu yang memadai
[815]
sebelum akhirnya hasil investasi kita memberikan manfaat.
[819]
Next,
[821]
yang ketiga,
[822]
perusahaan baik akan meningkatkan kekayaan pemegang sahamnya.
[826]
Singkatnya gini, ada usaha bakso, modalnya Rp10 juta,
[829]
setahun kemudian dapet untung bersih Rp2 juta.
[832]
Dibagilah 50:50 nih. 50 persen ke pemegang saham,
[835]
50 persen ke perusahaannya untuk dijadikan modal tambahan.
[840]
Sekarang, berarti modalnya jadi Rp11 juta.
[843]
begitu terus bertahun-tahun.
[845]
Sehingga, usaha bakso tadi, nggak akan cuma Rp11 juta lagi modalnya,
[850]
akan terus bertambah seiring dia terus menghasilkan laba bersih.
[854]
Kita dapet dividen dari saham baksonya,
[857]
nilai lembaran saham baksonya tadi pun, itu terus meningkat.
[861]
Sama seperti kasus Bank BRI yang udah kita bahas sebelumnya.
[865]
Dalam jangka panjang, kita dapet 2 hal; capital gain dan dividen.
[872]
Yang keempat, harga saham turun?
[874]
Ya bagus.
[876]
He tunggu tunggu tunggu tunggu,
[878]
"Lo gila ya?!"
[880]
"Saham anjlok ya sedihlah!"
[882]
"ya lo harus jual lah!"
[883]
"Ngapain lo seneng saat harga saham turun?"
[888]
Kalau kita punya mindset yang bener tentang investasi di pasar modal,
[893]
penurunan harga dari saham perusahaan yang baik
[895]
harusnya merupakan kabar gembira.
[898]
Karena dengan harga yang sama,
[900]
kita bisa dapet lembaran yang lebih banyak dari saham tersebut.
[904]
Kita tahu persis, harga saham dalam jangka pendek akan naik dan turun.
[909]
Namun, ada kalanya terjadi krisis, yang menyebabkan harga saham apapun,
[914]
mau yang baik mau yang buruk, itu pasti jatoh,
[917]
bahkan jatuh sangat dalam.
[920]
Kita sendiri (Indonesia) baru 3 kali mengalami krisis yang dalam seperti itu,
[923]
yaitu tahun 1998, 2008, dan yang terakhir kemarin 2020.
[928]
Bank BRI, sebelum ada krisis Covid,
[932]
harga per lembarnya pernah menyentuh Rp4,740
[936]
Tapi, di bulan mei 2020, harga sahamnya turun sampai ke level Rp2240.
[943]
Berarti, kalau lo sempet beli sebelum pandemi,
[946]
Lo akan rugi 52 persen.
[949]
Itu gede banget.
[951]
Uang lo berkurang lebih dari setengahnya dalam jangka waktu 4 bulan.
[956]
Penurunan harga saham perusahaan yang baik, apakah membuat lo sedih?
[961]
Harusnya enggak.
[963]
Karena, yang tadinya lo harus bayar Rp400 ribu untuk 100 lembar saham,
[968]
sekarang, dengan uang yang sama,
[969]
Lo bisa punya 200 lembar saham Bank BRI.
[973]
Makanya, krisis itu bisa jadi titik masuk yang baik
[976]
bagi orang-orang yang mau membeli saham.
[979]
Tapi jangan harap krisis itu bisa terjadi terus menerus.
[982]
Lagipula, ngga ada yang bisa memprediksi
[984]
dan nggak ada yang mau juga akan terjadinya suatu krisis.
[989]
Yang kelima, yang terakhir.
[991]
Fokus untuk meningkatkan sumber pendapatan.
[995]
Kita harusnya udah sepakat bahwa,
[997]
Bank BRI adalah perusahaan yang baik.
[1000]
Dari 2004 hingga hari ini ketika sahamnya naik 2780 persen,
[1005]
apakah lo harus melakukan sesuatu?
[1008]
enggak.
[1009]
Dari 2014 sampai hari ini, sahamnya naik 240 persen,
[1014]
apakah lo harus melakukan sesuatu?
[1017]
Nggak juga.
[1019]
Lo lupain atau lo tidur pun, nggak masalah.
[1022]
Dia tetep bisa berkembang dari tahun ke tahun.
[1026]
Poinnya apa sih?
[1028]
Poinnya adalah, lo jangan khawatir
[1030]
ketika lo memegang saham perusahaan yang baik.
[1033]
Nggak perlu dicekin setiap hari,
[1036]
saham perusahaan yang baik akan terus bekerja untuk lo.
[1039]
Untuk meningkatkan nilai dari saham yang lo pegang.
[1043]
Jadi, lo mendingan, daripada nggak ngapa-ngapain,
[1046]
coba tingkatin skill dalam diri lo,
[1048]
dengan harapan, skill tersebut mampu menciptakan
[1051]
sumber pendapatan yang lain.
[1053]
Supaya lo bisa membeli lembaran saham perusahaan yang baik
[1057]
lebih banyak lagi.
[1059]
Nggak usah lo fokus kepada pergerakan harga
[1061]
yang terjadi setiap hari Senin sampai dengan Jumat (di pasar saham)
[1064]
Dalam jangka pendek, mau naik harganya, ya silahkan,
[1068]
mau turun, ya lebih bagus.
[1070]
Karena, dalam jangka panjang,
[1072]
saham-saham tersebut akan memberikan
imbal hasil yang lebih dari memuaskan.
[1078]
Semoga penjelasan tadi bukan hanya menjawab pertanyaan lo,
[1080]
"kapan harus beli saham?"
[1082]
"di harga berapa dan berapa banyak?"
[1085]
Tapi, semoga juga bisa memberikan lo sudut pandang atau mindset
[1088]
yang baru dalam berinvestasi saham.
[1092]
Untuk kapan harus jual saham,
[1094]
ada baiknya kita bahas di lain waktu.
[1097]
Pesen gue, tetep, dari dulu.
[1100]
Jangan malu, untuk belajar Saham Dari Nol.
Most Recent Videos:
You can go back to the homepage right here: Homepage





